Ternak Tikus Modal kecil, balik modal di bulan ke tiga

Trans Topik Edisi 28 - Ternak Modal Kecil Untung Besar

Berawal dari iseng mengisi bekas kandang burung kenari, kini Manto serius menekuni ternak tikus putih. Di medio 2002 saat anak pertamanya lahir, Manto menjual burung kenari peliharaannya. Daripada bekas kandang kenari itu dibiarkan terlantar, dibelilah 3 pasang indukan tikus mencit putih dari pasar hewan di Solo seharga Rp. 10.000,-. Niatnya untuk sekedar mengisi kandang namun dalam jangka waktu 3 bulan sudah berkembang biak  dan untuk pertama kalinya menjual 50 ekor tikus putih seharga Rp. 1.500,- per ekor. Permintaan sebanyak itu terutama dari penjual untuk dijual lagi sebagai pakan ular. Bisa dibilang hasilnya sangat lumayan dibandingkan cara awalmula Manto menternakkan tikus-tikus tersebut yang hanya asal-asalan.

Read more: Ternak Tikus Modal kecil, balik modal di bulan ke tiga

Pengalaman Warung Serba Jamur, Cikal Resto-Serba Jamur, Solo "Peluang Cerah, Keuntungan Ratusan Ribu per Hari"

Trans Topik Edisi 5 - "Sekarang Saat yang Tepat Terjun di Bisnis Jamur"

- Empat bulan Kembali Modal

- Omset Kian hari Kian Besar

Mungkin banyak orang yang bingung, di saat punya modal usaha namun tak tahu apa yang harus dikerjakannya. Sebenarnya banyak bidang Agribisnis yang sangat terbuka lebar untuk ditanam investasi. Salah satunya adalah usaha warung makan atau resto. Peluang yang satu ini memang sangat bersentuhan dengan dunia agro, dan sangat menjanjikan keuntungan besar. Namun jika tidak cukup jeli memilih tentu keuntungan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Pengalaman pria asal Solo ini mungkin bisa dijadikan inspirasi untuk sebuah peluang menjanjikan dari warung makan. Setelah beberapa tahun menjadi koki di sebuah restoran di Yogya, akhirnya ia memilih membuka usaha sendiri. Yaitu sebuah warung makan. Namun bukan sembarang warung makan yang ia kelola. Melainkan sebuah warung makan dengan keunikan khas. Yaitu warung serba Jamur.

Read more: Pengalaman Warung Serba Jamur, Cikal Resto-Serba Jamur, Solo "Peluang Cerah, Keuntungan Ratusan...

Musim Hujan Paling Laris (Melirik Hijaunya Bisnis Bibit Tanaman Keras)

Trans Topik : Edisi 2 Tahun II -  Melirik Hijaunya Bisnis Bibit Tanaman Keras "Sana Krisis, Sini Bibit Tetap Laris"

Semua bibit tanaman keras adaMeski berbagai jenis bibit tanaman keras ada disini, tapi dari kebutuhan pasar yang ada, hampir separuhnya didominasi oleh tanaman Albasia. Karena dianggap lebih laku, maka mayoritas para petani disini melakukan pembibitan Albasia, Sengon Laut.

Soal pemasaran, para petani tak perlu khawatir. Hampir setiap saat, para pedagang lokal maupun luar kota datang ke Kemiri, untuk memborong bibitan mereka. Meski tak ada harga jual yang pasti, namun menurut H.Saiman, setiap bibit dengan ketinggian 30 cm, dirata-rata dijual 500 rupiah.

Angka itu mungkin terlihat kecil. Tapi jika dikalikan produksi mereka, tentu hasilnya sangat mencengangkan. Menurut H.Saiman, musim bibit yang paling ramai adalah pada bulan Nopember sampai Januari, atau saat musim penghujan.

“Dalam setiap musim penghujan tadi, paling tidak terjual 20 juta bibit dari berbagai jenis. Itu dari keseluruhan petani jika dikalkulasikan. Jika harganya 500 rupiah, berapa uang yang berputar di Kemiri ini. Bisa milyaran,” jelas H.Saiman, yang memiliki lahan ribuan meter ini.

Harga bibit tidak ada standarnya. Setiap saat bisa berubah. Hal itu ditentukan oleh keadaan pasar. Jika pasar sangat membutuhkan, sementara bibit yang ada kurang, atau tidak bisa memenuhi permintaan, maka secara otomatis, harga bibit akan naik drastis. Dan saat-sat inilah, yang sangat menguntungkan petani.

“Itu terjadi  pada semua bibit. Tapi paling dominan pada bibit Albasia. Umpamanya harga saat ini 500 rupiah perbibitan Albasia. Namun ketika musim penghujan, pesanan sangat banyak, sementara stok sedikit, maka otamatis, harganya bisa naik hingga 3, atau 4 kali lipatnya. Pokoknya tergantung pasar,” kata lelaki yang memiliki jiwa sosial tinggi di masyarakatnya itu.

Meski sudah lama menggeluti dunia perbibitan, H.Saiman tetap tidak bisa memprediksi, bibit apa yang bisa laku saat ini, atau kedepannya. Hal itu dikarenakan kebutuhan bibit, baik lokal atau luar daerah, tentu tidak bisa dipastikan dan diamankan.

“Cara menyiasatinya ya dengan menanam semua jenis yang ada. Meski begitu, yang mendominasi tetap Albasia. Tapi kami juga harus menyediakan lainnya. Bisa saja, meski yang dominan disemai bibit Albasia, yang lagi dibutuhkan bibit lainnya. Kalau semuanya ada kan malah lebih bagus,” ujarnya memberi kiat.

Segmen pasar dari usaha pembibitan ini adalah para pedagang, juga masyarakat umum. Para pedagang inilah, yang membawa bibitan hasil produksi petani Kemiri ini ke konsumennya, yang bisa berupa petani perkebunan, instansi. Atau bisa juga dijual secara eceran.

H.Saiman menilai, peluang ke depan, tentang usaha bibitan yang dijalaninya tetaplah stabil. Karena saat ini, bibitan ini sudah menjadi kebutuhan, maka meski berapapun yang diproduksi, tetaplah dibutuhkan.

“Contohnya Albasia. Para petani Albasia pasti membutuhkan bibit Albasia. Karena kayu Albasia itu sendiri selalu laku dijual, bahkan juga sampai diekspor. Yang terpengaruh krisis adalah pengekspor kayunya itu. Kalau kita nggak khawatir, pasti lakunya. Tapi mungkin, harganya bisa menjadi turun,”  pemilik UD. Tani Makmur  pada Trans Agro.

Investasi di pembibitan tidaklah merugikan. Bahkan berpeluang bagus kedepan. Modal yang diperlukan adalah ketelatenan dan keuletan. Itu adalah kunci kesuksesannya. H.Saiman memberikan gambaran.

Jika ada lahan sawah seluas 1700 meter persegi, jika ditanami padi, akan menghasilkan uang 5 juta rupiah (dari sistim tebas). Namun jika ditanami bibit, hasilnya bisa berlipat-lipat.

“Contoh saja. Jika lahan seluas itu disemai bibit Albasia, atau lainnya, maka akan menampung 100.000 bibit, yang ditata rapi menggunakan polybag.”

Dalam jangka waktu 3-4 bulan bisa laku dijual, dengan harga rata-rata 300 rupiah saja, maka bisa menghasilkan 30 juta. Itu baru satu kali jual (panen. Jika dalam setahun paling tidak bisa panen 2 atau 3 kali, maka tinggal mengalikan saja.

“Itu keuntungan kotornya. Jika dikurangi ongkos produksi, dalam hal ini tenaga, pupuk, serta obat-obatan, satu bibitan ongkosnya 100 rupiah. Jadi tinggal mengurangi saja dari keuntungan kotor tadi. Jelas lebih menguntungkan jika dibandingkan bertanam padi," ujarnya pada Trans Agro.
(Teks dan Foto : Jono)

 

{article Melirik Hijaunya Bisnis Bibit Tanaman Keras " Sana Krisis, Sini Bibit Tetap Laris"}{title} {readmore:+ baca ...}{/article}

Analisis usaha bisnis bibit tanaman keras

{article Semai Saja Semua Jenis Bibit Tanaman Keras }{title} {readmore:+ baca ...}{/article}


Artikel ini ada di {article Edisi 2 - Mereka yang Tetap Eksis di Tengah Krisis}{title} {readmore:+ lihat ...}{/article}


artikel lengkap bisa anda dapatkan di bundel Trans Agro edisi 1 sd 20

{module [62]}{module[18]}

Semai Saja Semua Jenis Bibit Tanaman Keras

Trans Topik : Edisi 2 Tahun II -  Melirik Hijaunya Bisnis Bibit Tanaman Keras "Sana Krisis, Sini Bibit Tetap Laris"

Semua bibit tanaman keras adaKarena tidak bisa memprediksi bibitan apa yang laku dijual untuk saat-saat tertentu, maka solusinya adalah menyemai berbagai jenis bibitan. Caranya juga sama, antara menyemai bibitan satu dengan bibitan lainnya.

Cara pembibitannya sangatlah gampang. Biji yang akan disemai, terlebih dahulu direndam menggunakan air hangat. Lalu diamkan hingga airnya dingin.

. Setelah itu, barulah biji bisa ditanam ke polybag, dengan menggunakan media tanam tanah saja. Lalu tiap pagi dan sore disiram. Setelah 4 hari, Albasia yang  tadi akan muncul tunas . Setelah tumbuh penyiraman bisa dilakukan sehari sekali.

“Untuk perawatannya hingga bisa laku dijual, yakni ketinggian 30 cm, antara lain, pemberian pupuk, insektisida, juga fungisida untuk pencegahan penyakit dan jamur. Biaya inilah, yang dirata-rata 100 rupiah perbatangnya,” ujar laki-laki ramah ini.

Barulah setelah tinggi bibit 30 cm, bisa mulai dijual. Para pedagang akan datang ke sini, hingga tak  perlu susah-susah menawarkannya. Harga jualnya juga ditentukan oleh pasar.

“Jadi meski ada krisis seperti sekarang ini, kami nggak perlu khawatir. Bibit yang kami produksi jelas laku, dan nggak ada ruginya. Kalaupun tidak laku untuk saat ini, suatu saat pasti laku. Bahkan harganya bisa lebih tinggi,” pungkasnya pada Trans Agro. (Teks dan Foto : Jono)

 

Estimasi Keuntungan Kotor Usaha Bibit Tanaman Keras

Skala Produksi 100.000 Bibit

 

  1. Ongkos Produksi                      Rp. 100X100.000        = Rp. 10.000.000
  2. Pendapatan Usaha                    Rp. 300 X 100.000      = Rp. 30.000.000
  3. Keuntungan   Kotor      Perpanen                                  = Rp. 20.000.000

 

Keterangan :

-         Harga Jual bibit Rata-rata  Rp. 300 perpolibag (ukuran 30 cm)

-         Ongkos Perawatan, Pupuk, pestisida dan lain-lain Rp. 100 perpolibag

-         Penjualan setelah 3-4 bulan semai  atau  2 kali setahun

 

 


{article Melirik Hijaunya Bisnis Bibit Tanaman Keras " Sana Krisis, Sini Bibit Tetap Laris"}{title} {readmore:+ baca ...}{/article}

{article Musim Hujan Paling Laris (Melirik Hijaunya Bisnis Bibit Tanaman Keras)}{title} {readmore:+ baca ...}{/article}


Artikel ini ada di {article Edisi 2 - Mereka yang Tetap Eksis di Tengah Krisis}{title} {readmore:+ lihat ...}{/article}


artikel lengkap bisa anda dapatkan di bundel Trans Agro edisi 1 sd 20

{module [62]}{module[18]}

Bisnis Bibit Tanaman Keras Bebas Krisis

- Setahun Bisa Panen 2 Kali -Tiap Panen Bisa Puluhan Juta - Pasar  Tidak Pernah Jenuh

Semua bibit tanaman keras adaBisnis bibit tanaman keras ternyata juga  tidak terkena imbas krisis. Karena apa? Penghijauan dimana-mana tetap jalan terus. Bibit seperti Sengon, Jati, Mahoni, Jabon dan berbagai macam lainnya tetap laku. Untungnya juga tidak sedikit. Meski harga perpolibagnya sangat murah, tapi dengan penjualan partai besar, sekali jual puluhan juta diraup.

 

Read more: Bisnis Bibit Tanaman Keras Bebas Krisis

You are here: