Belut memang jenis ikan konsumsi yang sudah sangat akrab dengan kita. Meskin begitu, kebanyakan belut yang kita makan tersebut berasal dari tangkapan alam. Padahal, peluang untuk dibudidaya skala agribisnis sangat besar. Tidak perlu berpikir pasar ekspor yang memang kebutuhannya sangat tinggi, pasar domestik lokal saja belum terpenuhi.
Read more: Dengan Drum Bekas, Jutaan Rupiah dari Belutpun Dikantongi
Budidaya jamur memang merupakan salah satu alternatif peluang usaha ketika semakin susah mencari peluang pekerjaan. Setidaknya hal itulah yang dirasakan oleh Syaifudin Zuhri, seorang wiraswasta muda yang semakin sukses, di saat rekan seumurnya sibuk mencari pekerjaan, pria yang akrab dipanggil Udin ini justru telah mampu mempekerjakan karyawan.
Lintah (Hirudo Medicinalis), adalah binatang sejenis cacing, yang gemar menghisap darah. Binatang ini, suka hidup di sawah, hutan-hutan tropis, rawa-rawa, atau tempat lembab lainnya. Bagi sebagian orang, lintah adalah binatang yang sangat menjijikkan. Tapi bagi Moh Sugeng (38), warga Kawedusan, Kebumen, Jawa Tengah, lintah bisa difungsikan menjadi media penyembuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
Sejak ratusan tahun silam, lintah sudah dikenal sebagai media penyembuh serba guna untuk mengobati segala macam penyakit, terutama yang berhubungan dengan peredaran darah. Begitu juga dengan yang dilakukan Sugeng ini.
“Pada dasarnya, lintah itu mengandung air liur (saliva), dimana dalam air liur itu mengandung zat aktif, paling tidak ada 15 unsur. Nah, zat-zat yang terkandung itu, bisa untuk menyembuhkan berbagai penyakit,” jelas Sugeng, demikian lelaki ini biasa disapa pada Trans Agro.
Berbagai penyakit bisa disembuhkan dengan pengobatan memakai media lintah ini. Itu terbukti dengan banyaknya pasien yang berobat ke rumah Sugeng, dimana menurut pengakuan mereka, semua penyakit yang diobati dengan cara ini bisa sembuh.
“Dari penyakit ringan seperti jerawat, rematik, asam urat, hingga kelas berat, semisal stroke, jantung, tumor atau kanker, Insya Alloh, bisa disembuhkan dengan sedot lintah ini,” kata Sugeng, yang tak pernah mematok tarif, alias sukarela atas jasanya itu.
Pada dasarnya, menurut Sugeng, setiap penyakit itu ditandai dengan adanya darah kotor, atau penyumbatan pada peredaran darah, hingga menyebabkan darah menjadi beku, karena darah tidak bisa mengalir dengan lancar.
“Cuma setiap penyakit itu, pembekuan darahnya terletak pada titik-titik tertentu, dimana penyakit yang satu dengan yang lainnya berbeda letak dan titiknya,” terang Sugeng, yang mengetahui titik-titik itu berdasar pengalaman dan belajar secara otodidak.
Nah, jika darah yang kotor atau beku itu dihilangkan, yakni dengan cara disedot dengan lintah, maka diyakini, peredaran darah menjadi normal, dan penyakit itu akan hilang dengan sendirinya.Menurut Sugeng, metode sedot lintah yang dipakainya itu, tiap penyakit satu dengan lainnya berbeda-beda. Tergantung tidaknya penyakit itu.
“Ya, kalau penyakitnya berat, bisa beberapa kali datang. Tapi kalau sakitnya itu ringan, atau masih baru, ada yang sekali datang juga bisa langsung sembuh. Tiap penyakit itu lain-lain, ada yang hanya menggunakan lintah 2 atau 3, bahkan ada yang lebih dari itu. Pokoknya tergantung penyakitnya,” papar ayah 2 anak ini.
Menurut Sugeng, paling tidak terdapat 15 jenis lintah yang bisa digunakan untuk media penyembuhan. Sementara yang dipergunakan Sugeng, bukan lintah sembarangan. Dirinya hanya menggunaka lintah jenis purba (raksasaI, yang biasa hidup dirawa-rawa. Pada golongan lintah, lintah purba ini yang terbesar, sebesar jempol kaki orang dewasa.
{module [150]}
Cara pengobatan:
Untuk pengobatan yang dilakukan Sugeng, pertama kali, dirinya akan menanyakan apa keluhan atau penyakit pasiennya. Setelah tahu penyakitnya, maka dirinya juga akan tahu, titik-titik mana yang akan disedot dengan lintah itu.
Setelah diketahui titik-titik mana yang akan disedot, maka pada titik-titik itu, akan diberi suatu ramuan khusus, yang berfungsi sebagai perangsang agar lintah mau menggigit (menyedot). Ramuan ini sifatnya rahasia perusahaan.s
Untuk menjaga supaya steril, maka tiap lintah akan dibungkus menggunakan plastik. Setelah diberi ramuan perangsang tadi, maka bagian mulut lintah akan ditaruh dititik itu. Maka dengan sendirinya, lintah akan menempel, yakni dengan cara menyedot mencari sumber penyakit..
“Lintah itu mempunyai 3 lubang pada bagian mulutnya. Lubang pertama, berfungsi untuk mengeluarkan air liur, yang berfungsi untuk menghancurkan sumber penyakit. Kemudian lubang yang kedua, berfungsi untuk menyedot darah yang beku, atau sumber penyakit yang telah hancur tadi. Nah, lubang yang ketiga, berfungsi untuk bernapas. Ini berdasarkan pengamatan saya selama ini,” ujar suami dari Anung Wardani ini pada Trnas Agro
Lintah akan melepas sedotannya, atau terlepas sendiri ketika sudah merasa kenyang, atau darah kotor yang disedotnya itu habis. Lalu, pada titik-titik yang disedot tadi, akan dibersihkan dengan kapas, serta dibalut dengan kain kasa dan perban. Setelah selesai, maka lintah-lintah tadi, akan dibungkus dengan plastik secara sendiri-sendiri.
Dan dalam waktu seminggu, cairan-cairan darah kotor yang disedot lintah tadi akan keluar dengan sendirinya.Tahap selanjutnya, agar lintah tadi bisa kembali fit, dimasukkan ke dalam kolam netralisasi. Diperlukan waktu 1 bulan dalam hal ini, agar lintah bisa dipergunakan lagi.
“Pada intinya, semua jenis lintah itu bisa untuk media penyembuhan. Ibarat mesin pompa air, kalau PKnya besar, maka sedotannya juga kuat. Itulah kenapa, saya menggunakan lintah purba ini, karena sedotannya paling kuat,” kata Sugeng lebih jauh.
Dibudidayakan sendiri:
Lintah purba yang dipergunakan Sugeng untuk mengobati pasiennya, merupakan hasil budidayanya sendiri. Semua itu, berasal dari 10 indukan lintah purba yang diberikan ayahnya, H.Jamhari 20 tahun silam.
“Awalnya, metode sedot lintah ini hanya dipergunakan untuk mengobati kalangan keluarga saja. Tapi, lambat laun banyak orang yang minta tolong untuk diobati dengan cara ini. Sejak itu, kami membudidayakannya sendiri,” jelas Sugeng, yang mulai buka pengobatan sedot lintah ini sejak tahun 91 lalu.
Lintah merupakan jenis bintang yang Hemaprodik, alias berkelamin ganda. Tak diperlukan adanya perkawinan antara indukan jantan dan betina dalam lintah ini. Untuk budidaya ini, Sugeng mengaku tak mengalami kesulitan.
Tahap awal, indukan-indukan tadi ditempatkan pada kolam, yang lantainya dari tanah. Sugeng biasa memasukkan indukan tadi, ketika memasuki musim penghujan. Pada masa ini, lintah biasanya akan bertelor.
“Dari pengamatan, dalam waktu seminggu setelah indukan tadi dimasukkan kolam, biasanya sudah pada bertelor,” terang Sugeng menjelaskan.
Setelah indukan tadi bertelor, 20 hari kemudian, telor sudah bisa dipecah (ditetaskan). Pada usia 20 hari ini, telor sudah bisa menetas. Bisa dibantu dengan memecahkannya, atau membiarkannya hingga menetas sendiri.
Dari tiap butiran telor ini, di dalamnya terdapat paling tidak 10 ekor anakan lintah. Setiap satu ekor indukan, hanya bertelor satu butir saja. Setelah anakan tadi menetas, maka bisa langsung dimasukkan topels atau kolam pembesaran.
Yang tak boleh dilupakan, adalah pemberian pakan. Khusus masalah pakan ini, Sugeng mempunyai ramuan tersendiri, yang berasal dari sari-sari daging yang diolah sedemikian rupa. Ramuan rahasia ini, diolah menjadi cairan, agar memudahkannya dalam pemberian pakan.
“Pakan ini diberikan sehari sekali, baik pada indukan, maupun pembesaran pada anakan. Ramuan ini juga yang kami pergunakan sebagai perangsang agar lintah mau menyedot pada titik yang diinginkan sewaktu pengobatan,” ujar laki-laki ramah ini.
Pada usia 2 bulan, anakan lintah tadi memiliki panjang 5 cm, serta diameter tubuhnya 0,5 cm, dan sudah bisa digunakan untuk mengobati. Untuk anakan usia ini, biasanya untuk pengobatan ringan, semisal jerawat, atau sedot lemak.
Sementara usia di atas 2 bulan, anakan tadi akan menjadi lebih besar. Khusus lintah yang sudah besar ini, atau usia di atas 2 bulan dipergunakan untuk pengobatan penyakit kelas berat, seperti kanker, tumor, atau lainnya.
Lintah bisa dikatakan produktif, paling tidak dalam jangka waktu 1 tahun. Tak semua lintah yang dipergunakan untuk penyembuhan ini bisa bertahan hidup seusai digunakan. Hal itu terjadi, pada penyedotan penyakit kelas berat, terutama kanker dan tumor.
“Khusus lintah yang sudah tua atau tidak produktif lagi, kami olah lagi menjadi minyak lintah, yakni minyak yang mempunyai khasiat untuk keperkasaan lelaki,” ujar Sugeng, sambil menambahkan, dirinya juga menjual minyak lintah ini, dengan harga perbotolnya Rp 25.000,-
Dari yang awalnya hanya memiliki 10 indukan, kini lintah purba yang dimiliki Sugeng mencapai puluhan ribu ekor. Semua itu dipergunakan sebagai media untuk penyembuhan, dengan biaya seikhlasnya. Sugeng juga tak menjual hasil budidayanya itu. Semua dipergunakan untuk konsumsi sendiri. (Teks dan Foto : Sujono)
Narasumber Moh Sugeng
Kawedusan RT.02 RW.02
Kebumen, Jateng
Telp. (0287) 5507057
Jangan dikira pepaya tidak mampu ditanam di pasir pinggir pantai. Ternyata, hasilnya tak jauh kalah dengan pepaya biasanya. Malah mencapai omzet jutaan rupiah perminggunya.
Read more: Pepaya California di Pasir Pantai, Omzet Rp 4 juta Perminggu